News

Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), Jaminan dan Bukti Kredibilitas Perusahaan Kayu

Sejak implementasi aksi Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) di Uni Eropa (UE) pada 1 April 2016 silam, para negara anggota UE meminta semua produk kayu dan timber yang diekspor dari Indonesia ke UE memiliki sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

SVLK adalah sebuah sistem di Indonesia yang didesain untuk menverifikasi legalitas produk-produk kayunya. Sementara itu rencana FLEGT UE didesain untuk melawan illegal logging dan meningkatkan manajemen hutan di seluruh dunia.

Kewajiban sertifikat SVLK telah meningkatkan daya saing Indonesia dalam perdagangan kayu Indonesia karena hal ini menunjukkan komitmen negara ini untuk memonitor legalitas industri kayu. Kendati begitu, di Oktober 2015 Pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No.89/M-DAG/PER/10/2015.

Peraturan baru ini mengecualikan 15 grup produk (Kode HS) dari sistem verifikasi SVLK (sebuah tindakan deregulasi). Hal ini menghalangi target-target SVLK karena membuka ruang kayu-kayu illegal masuk dalam jaringan suplai (diketahui bahwa kayu illegal sangat marak tersebar di seluruh negeri).

Hal ini membuat UE mempertanyakan sejauh mana Indonesia berkomitmen untuk memastikan legalitas kayu dan juga manajemen hutan yang berkelanjutan di negara yang memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini dan merupakan salah satu produsen komoditi kunci di dunia.

Pengecualian ini mengancam implementasi rencana aksi FLEGT di UE pada April 2016 dan karenanya para pemangku kepentingan berharap bahwa UE dan Indonesia bisa segera mengharmonisasi kebijakan-kebijakan mereka.

Saat ini, kira-kira 40% produk kayu di UE berasal dari Indonesia. Ekspor kayu di Indonesia ke UE mengalami pertumbuhan yang luar biasa setelah Indonesia memberlakukan sistem SVLK di 2009.

Sebagai salah satu perusahaan eksportir pemegang sertifikasi SVLK, Jan & Clift Furniture yang berada di bawah badan usaha CV. Rainbow Trikarsa Mandiri memiliki legalitas serta kredibilitas yang terjamin sebagai produsen furniture yang tidak hanya merambah pasar nasional, tetapi juga multinasional.

Dampak positif dari sertifikat SVLK dalam perdagangan kayu di negara ini juga dapat dilihat dari negara-negara anggota ASEAN seperti Vietnam, Myanmar dan Malaysia, yang belum memiliki system SVLK, yang kini dilaporkan berencana untuk mengirimkan perwakilan mereka ke Indonesia untuk mempelajari sistem SVLK dalam rangka membuat produk-produk kayu mereka lebih kompetitif di pasar internasional, termasuk produk yang dihasilkan oleh Jan & Clift.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *